3 Red Flags yang Sering Ditemukan Auditor BPOM & BPJPH pada Laboratorium Pengujian

Auditor memeriksa dokumen dan data hasil uji di laboratorium pengujian

Bayangkan pagi hari di sebuah laboratorium pengujian. Sampel sudah tersusun rapi, alat sudah menyala, analis siap bekerja. Lalu satu pesan masuk: tim auditor akan datang untuk melakukan audit laboratorium pengujian minggu depan. Ada laboratorium yang menyambutnya dengan tenang. Ada pula yang mendadak sibuk mencari dokumen yang “seharusnya ada”.

Perbedaan dua suasana itu hampir selalu bukan soal seberapa canggih alatnya. Perbedaannya ada pada kebiasaan kecil yang dijalankan setiap hari. Auditor, baik yang berangkat dari kacamata keamanan pangan dan obat (BPOM) maupun jaminan produk halal (BPJPH), cenderung menemukan pola yang berulang. Pola inilah yang sering disebut sebagai red flag: tanda bahaya yang membuat auditor berhenti sejenak, membuka lebih banyak berkas, dan bertanya lebih dalam.

Artikel ini merangkum tiga red flag yang paling sering muncul, mengapa ia terjadi, dan langkah praktis agar laboratorium Anda tidak terkejut saat audit tiba.

Sebagai mitra yang mendampingi laboratorium dalam menjaga kepercayaan terhadap hasil ujinya, PT Karunia Jasindo melihat pola yang sama muncul dari tahun ke tahun. Laboratorium yang siap menghadapi audit bukan yang paling banyak dokumennya, melainkan yang paling konsisten menjalankan sistem mutunya. Karena itu, pembahasan berikut disusun dengan sudut pandang praktis: apa yang bisa langsung dibenahi.

 

Mengapa Laboratorium Selalu Jadi Sorotan

Rantai kepercayaan dari sampel, hasil uji, hingga keputusan regulator

Image : Rantai kepercayaan dari sampel, hasil uji, hingga keputusan regulator

Laboratorium pengujian punya posisi unik. Ia tidak memproduksi makanan, obat, atau kosmetik. Namun hasil ujinya menjadi dasar keputusan penting: apakah produk aman diedarkan, apakah klaim pada label bisa dipertanggungjawabkan, apakah bahan yang digunakan sesuai persyaratan, hingga apakah produk terbebas dari cemaran yang dilarang.

Dengan kata lain, laboratorium adalah mata rantai kepercayaan. Ketika satu angka pada laporan hasil uji dipertanyakan, dampaknya bisa merembet ke produsen, distributor, sampai konsumen. Itulah sebabnya pengawasan terhadap laboratorium, terutama yang hasil ujinya dipakai untuk kepentingan registrasi, pengawasan, dan sertifikasi, cenderung lebih ketat dibanding banyak sektor lain.

Di sisi lain, tren kebutuhan pasar ikut mendorong tekanan tersebut. Produsen makin sering diminta menyertakan bukti uji dari laboratorium yang kompeten. Regulator makin menekankan ketertelusuran. Pelanggan, termasuk pembeli internasional, makin jeli membaca sertifikat hasil uji. Laboratorium yang dulu cukup dengan “hasilnya akurat” kini harus mampu menunjukkan bagaimana hasil itu diperoleh dan mengapa ia layak dipercaya.

Dua Lensa, Satu Standar: BPOM dan BPJPH

Dua lensa audit, BPOM dan BPJPH, memeriksa laboratorium yang sama

Image : Dua lensa audit, BPOM dan BPJPH, memeriksa laboratorium yang sama

Sebelum masuk ke red flag, ada baiknya memahami bahwa BPOM dan BPJPH memandang laboratorium dari sudut yang berbeda, tetapi bertemu di titik yang sama.

Dari sisi BPOM, perhatian utama tertuju pada keamanan, mutu, dan keabsahan hasil uji. Pertanyaannya kira-kira: apakah metode yang dipakai layak, apakah hasil dapat dipercaya, dan apakah laboratorium bekerja dalam sistem mutu yang terkendali? Acuan yang paling dikenal di dunia laboratorium adalah ISO/IEC 17025, standar kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi.

Dari sisi BPJPH, perhatian tertuju pada kepastian kehalalan. Laboratorium pengujian berperan sebagai pendukung pembuktian, misalnya untuk menelusuri ada tidaknya kandungan bahan yang tidak diperbolehkan, seperti cemaran DNA babi atau kadar alkohol tertentu pada produk. Di sini yang dipertaruhkan bukan hanya angka, melainkan juga integritas proses: apakah sampel benar-benar terlindungi dari kontaminasi silang, dan apakah hasilnya konsisten serta bisa ditelusuri?

Titik temunya jelas. Baik untuk keamanan maupun kehalalan, auditor ingin melihat bukti bahwa laboratorium bekerja secara sistematis, terdokumentasi, dan dapat diulang. Ketika salah satu unsur itu goyah, red flag pun berkibar.

Cara Auditor Membaca Sebuah Laboratorium

Auditor jarang datang dengan pertanyaan yang mengejutkan. Mereka biasanya bergerak dengan tiga gerakan sederhana. Pertama, menelusuri sampel: dari penerimaan, penyimpanan, pengujian, sampai laporan. Kedua, menguji konsistensi: apakah yang tertulis di prosedur sama dengan yang dikerjakan analis di meja kerja. Ketiga, menagih bukti: setiap klaim kompetensi harus punya rekam jejak. Kalimat “kami selalu melakukannya” hampir tidak berarti tanpa catatan yang menyertainya.

Karena itu, wawancara singkat dengan analis sering sama pentingnya dengan pemeriksaan dokumen. Analis yang memahami alasan di balik prosedur, bukan sekadar mengikuti langkahnya, memberi sinyal kuat bahwa sistem mutu benar-benar hidup. Memahami cara berpikir ini membuat persiapan lebih terarah: laboratorium tidak perlu menebak-nebak, cukup memastikan tiga gerakan tersebut lolos dari sudut pandang auditor.

Red Flag #1: Integritas Data dan Dokumentasi yang Tidak Konsisten

Lembar data mentah dan catatan laboratorium yang tidak selaras

Image : Lembar data mentah dan catatan laboratorium yang tidak selaras

Jika ada satu hal yang paling sering membuat auditor mengernyit, itu adalah data yang tidak “bercerita” dengan runtut.

Seperti apa wujudnya di lapangan?

Auditor biasanya memulai dari satu laporan hasil uji, lalu menelusurinya mundur: ke data mentah, ke catatan analis, ke log alat, hingga ke identitas sampel. Red flag muncul ketika rantai itu putus. Beberapa contoh yang lazim ditemui:

  • Data mentah tidak lengkap, atau hanya tersimpan sebagai hasil akhir tanpa kromatogram, spektrum, atau catatan perhitungan pendukung.
  • Koreksi pada catatan dilakukan tanpa jejak yang jelas, misalnya ditimpa, ditipe-ex, atau dihapus tanpa paraf, tanggal, dan alasan.
  • Tanggal, jam, dan nama analis pada catatan tidak sinkron dengan log penggunaan alat.
  • Nomor sampel pada laporan berbeda dengan yang tertulis di formulir penerimaan sampel.
  • Pada sistem digital, akses pengguna dipakai bersama sehingga tidak jelas siapa yang mengubah apa.

Mengapa ini sering terjadi?

Biasanya bukan karena niat buruk. Beban kerja yang tinggi membuat pencatatan “nanti saja dirapikan”. Template dokumen dibiarkan bertahun-tahun tanpa dievaluasi. Peralihan dari catatan kertas ke sistem digital berjalan setengah jalan sehingga dua sistem hidup berdampingan tanpa aturan yang jelas.

Kenapa dianggap serius?

Karena integritas data adalah fondasi. Jika auditor tidak bisa memastikan sebuah angka lahir dari proses yang sah, seluruh laporan menjadi rapuh, betapapun akurat angka itu sebenarnya. Dalam praktik mutu, sering dipakai prinsip ALCOA+: data harus attributable (jelas siapa pembuatnya), legible (terbaca), contemporaneous (dicatat saat kejadian), original (asli atau salinan yang sah), dan accurate (akurat), ditambah kelengkapan, konsistensi, ketahanan, dan ketersediaan.

Ilustrasi (fiktif): Sebuah laboratorium menerima pertanyaan auditor tentang satu laporan uji. Angka pada laporan sesuai, tetapi lembar data mentahnya memuat dua tanggal berbeda dan satu koreksi tanpa paraf. Analis yakin hasilnya benar, namun tidak ada bukti yang bisa ditunjukkan. Auditor tidak menyimpulkan angkanya salah, tetapi mencatat bahwa keandalannya tidak dapat dibuktikan. Itu sudah cukup untuk membuka pemeriksaan yang lebih luas.

 

Insight praktis

  1. Uji ketertelusuran sendiri. Ambil lima laporan acak, lalu telusuri sampai data mentah. Jika ada yang tersendat, itulah titik perbaikan.
  2. Buat aturan koreksi yang sederhana dan tegas: coret satu garis, paraf, tanggal, tulis alasan. Tidak ada pengecualian.
  3. Kunci akses sistem digital per individu, aktifkan jejak audit (audit trail), dan batasi hak ubah data.
  4. Sinkronkan formulir sampel, catatan analis, log alat, dan laporan dengan satu sistem penomoran yang konsisten.

Untuk sudut halal, tambahkan satu hal: catat dengan jelas status sampel dan penanganannya sejak diterima, termasuk kondisi penyimpanan dan pemisahan dari sampel lain yang berisiko menimbulkan kontaminasi silang.

Red Flag #2: Metode, Peralatan, dan Ketertelusuran Pengukuran yang Belum Terjamin

Analis mengecek kalibrasi alat dan bahan standar rujukan di laboratorium

Image : Analis mengecek kalibrasi alat dan bahan standar rujukan di laboratorium

Red flag kedua berkaitan dengan pertanyaan mendasar: apakah cara laboratorium mengukur itu benar-benar layak?

Seperti apa wujudnya di lapangan?

  • Metode yang dipakai belum melalui verifikasi atau validasi yang terdokumentasi, atau dokumen validasinya tidak lagi sesuai dengan kondisi laboratorium saat ini.
  • Metode standar dimodifikasi sedikit demi sedikit tanpa evaluasi ulang.
  • Jadwal kalibrasi alat terlewat, atau alat kritis tetap dipakai padahal statusnya sudah kedaluwarsa.
  • Sertifikat kalibrasi ada, tetapi tidak ditinjau: apakah rentang dan ketelitian yang dikalibrasi sesuai kebutuhan pengujian?
  • Bahan standar atau bahan acuan tidak jelas asal-usulnya, tidak disimpan sesuai ketentuan, atau dipakai melewati masa berlakunya.
  • Ketidakpastian pengukuran belum dihitung atau tidak dipahami oleh analis.
  • Kondisi lingkungan yang memengaruhi hasil, misalnya suhu, kelembapan, atau kebersihan area, tidak dipantau.

Mengapa ini sering terjadi?

Karena semuanya terasa “baik-baik saja” selama hasil masih keluar. Alat menyala, angka muncul, klien puas. Baru saat auditor bertanya, “Bagaimana Anda tahu alat ini akurat pada rentang yang Anda pakai?”, jawabannya tidak tersedia dalam bentuk bukti.

Kenapa dianggap serius?

Ketertelusuran pengukuran adalah jembatan antara hasil uji Anda dengan standar yang diakui. Tanpa jembatan itu, hasil uji sulit dibandingkan dan sulit dipertanggungjawabkan. Untuk pengujian yang berkaitan dengan keamanan produk atau kehalalan, konsekuensinya jelas: keputusan bisa keliru ke dua arah, yakni produk aman dinyatakan bermasalah, atau produk bermasalah dinyatakan aman.

Ilustrasi (fiktif): Sebuah neraca analitik dipakai setiap hari dan tampak berfungsi normal. Saat ditanya, penanggung jawab mutu menemukan sertifikat kalibrasinya sudah lewat masa berlaku dua bulan. Tidak ada yang berniat lalai; pengingat jadwal memang tidak pernah dipasang. Hasil uji selama dua bulan itu kini perlu dievaluasi ulang, pekerjaan tambahan yang sebenarnya bisa dihindari dengan satu kalender sederhana.

 

Insight praktis

  1. Buat daftar alat kritis dan jadwal kalibrasi terpusat, dengan penanda visual pada alat (tanggal kalibrasi dan tenggat berikutnya).
  2. Tinjau sertifikat kalibrasi, bukan sekadar menyimpannya. Pastikan rentang, ketelitian, dan ketidakpastian sesuai kebutuhan uji.
  3. Dokumentasikan verifikasi metode sebelum dipakai rutin, dan tinjau ulang bila ada perubahan alat, reagen, personel, atau prosedur.
  4. Kelola bahan acuan dengan disiplin: catat asal, tanggal terima, tanggal buka, kondisi simpan, dan tanggal kedaluwarsa.
  5. Latih analis memahami ketidakpastian pengukuran, bukan hanya menyerahkannya kepada penanggung jawab mutu.

Red Flag #3: Jaminan Mutu Hasil Uji yang Lemah dan Tindak Lanjut yang Formalitas

Grafik kontrol mutu dan hasil uji profisiensi laboratorium

Image : Grafik kontrol mutu dan hasil uji profisiensi laboratorium

Red flag ketiga sering menjadi pembeda antara laboratorium yang “punya sistem” dan laboratorium yang “menjalankan sistem”.

Seperti apa wujudnya di lapangan?

  • Kontrol mutu internal dilakukan tetapi tidak dianalisis tren-nya. Grafik kontrol ada, namun tidak ada yang bertindak ketika titik-titik mulai bergeser.
  • Partisipasi uji profisiensi tidak terencana, tidak mencakup ruang lingkup uji utama, atau hasilnya tidak ditindaklanjuti.
  • Hasil di luar batas (out of specification atau hasil yang mencurigakan) ditangani tanpa investigasi yang terdokumentasi.
  • Tindakan korektif dan pencegahan (CAPA) hanya tertulis di formulir, tanpa analisis akar masalah yang meyakinkan dan tanpa verifikasi efektivitas.
  • Temuan audit internal dari periode sebelumnya muncul lagi di periode berikutnya.
  • Tinjauan manajemen berjalan sebagai rapat seremonial, tanpa keputusan yang mengubah sesuatu.

Mengapa ini sering terjadi?

Karena jaminan mutu dianggap “urusan dokumen” dan baru dikebut menjelang audit. Padahal auditor cenderung membaca konsistensi waktu: apakah kontrol mutu berjalan sepanjang tahun, apakah penyimpangan dulu benar-benar berujung perbaikan, dan apakah laboratorium belajar dari kesalahannya.

Kenapa dianggap serius?

Uji profisiensi adalah cermin dari luar. Ia menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh kontrol mutu internal saja: bagaimana hasil laboratorium Anda dibandingkan dengan laboratorium lain yang menguji sampel yang sama? Ketika laboratorium tidak ikut serta, atau ikut tetapi mengabaikan hasil yang menyimpang, auditor kehilangan bukti objektif bahwa kompetensi laboratorium terjaga dari waktu ke waktu.

Untuk konteks halal, jaminan mutu juga mencakup pengendalian kontaminasi silang: alur sampel, peralatan yang dipakai bergantian, prosedur pembersihan, dan pengendalian reagen. Bila prosedur ini tidak dijalankan konsisten, hasil uji, betapapun akurat metodenya, bisa diragukan.

Ilustrasi (fiktif): Sebuah laboratorium mengikuti uji profisiensi dan mendapat satu parameter dengan hasil menyimpang. Formulir CAPA diisi dengan kesimpulan “kesalahan analis” lalu ditutup. Setahun kemudian parameter yang sama menyimpang lagi. Bagi auditor, pola berulang ini lebih bermasalah daripada penyimpangan awalnya, karena menunjukkan akar masalah tidak pernah benar-benar ditemukan.

 

Insight praktis

  1. Susun rencana uji profisiensi tahunan yang memetakan ruang lingkup uji, bukan sekadar memilih skema yang mudah atau murah.
  2. Perlakukan hasil yang menyimpang sebagai peluang belajar. Lakukan investigasi, temukan akar masalah, dan buktikan bahwa perbaikan berhasil.
  3. Pantau tren kontrol mutu, tidak hanya batas lulus/gagal. Pergeseran kecil yang berulang sering menjadi sinyal awal masalah.
  4. Jadikan CAPA alat manajemen: setiap tindakan punya penanggung jawab, tenggat, dan bukti verifikasi.
  5. Isi tinjauan manajemen dengan data, misalnya tren keluhan, hasil audit, hasil profisiensi, dan beban kerja, lalu hasilkan keputusan yang tercatat.

Catatan PT Karunia Jasindo: Dari ketiga red flag, jaminan mutu eksternal adalah yang paling sering “tertunda” karena dianggap bisa menyusul. Padahal bukti partisipasi uji profisiensi yang terencana dan ditindaklanjuti menunjukkan kepada auditor bahwa kompetensi laboratorium dipantau secara berkala, bukan hanya saat audit. Di sinilah program seperti LGC AXIO Proficiency Testing yang tersedia melalui PT Karunia Jasindo dapat membantu laboratorium membandingkan kinerjanya dengan laboratorium lain secara objektif.

 

Checklist Cepat: Uji Diri Sebelum Auditor Datang

Tim laboratorium menjalankan simulasi audit internal dengan daftar periksa

Image : Tim laboratorium menjalankan simulasi audit internal dengan daftar periksa

Berikut daftar periksa ringkas yang bisa dipakai sebagai simulasi audit internal. Jawab jujur, dan catat setiap “belum” sebagai pekerjaan rumah.

Integritas data

  • Dapatkah tiga laporan acak ditelusuri sampai data mentah dalam waktu singkat?
  • Apakah semua koreksi memiliki paraf, tanggal, dan alasan?
  • Apakah akses sistem digital bersifat individual dan jejak audit aktif?

Metode dan peralatan

  • Apakah semua metode rutin sudah diverifikasi atau divalidasi, lengkap dengan buktinya?
  • Apakah semua alat kritis berstatus kalibrasi berlaku dan sertifikatnya sudah ditinjau?
  • Apakah bahan acuan tercatat lengkap, termasuk masa berlakunya?

Jaminan mutu

  • Apakah ada rencana uji profisiensi yang mencakup ruang lingkup utama?
  • Apakah hasil kontrol mutu dianalisis tren-nya?
  • Apakah CAPA terdahulu terbukti efektif, atau justru muncul lagi?

Khusus jaminan halal

  • Apakah alur sampel, penyimpanan, dan pembersihan peralatan mencegah kontaminasi silang?
  • Apakah status dan penanganan sampel tercatat sejak diterima hingga dilaporkan?

Jika lebih dari tiga jawaban masih “belum”, jangan panik. Justru itu tanda bahwa simulasi ini berhasil menemukan celah lebih awal daripada auditor.

Dari Sekadar Lulus Audit Menjadi Budaya Mutu

Ada satu benang merah dari ketiga red flag di atas: masalahnya jarang berupa satu kesalahan besar. Yang lebih sering terjadi adalah kebiasaan kecil yang dibiarkan hingga menjadi pola. Catatan yang ditunda, kalibrasi yang diperpanjang “sebentar lagi”, atau CAPA yang ditutup demi menutup formulir.

Laboratorium yang tenang menghadapi audit biasanya punya tiga ciri. Pertama, mereka memperlakukan audit internal sebagai kebutuhan, bukan formalitas. Kedua, mereka mengukur kinerja dengan data, misalnya tren kontrol mutu, hasil profisiensi, dan waktu penyelesaian CAPA. Ketiga, pimpinan hadir: keputusan mutu tidak berhenti di meja penanggung jawab mutu, tetapi mendapat dukungan sumber daya.

Dan ada bonus yang sering terlupa. Sistem yang sehat bukan hanya melindungi Anda dari temuan audit, tetapi juga mempercepat kerja harian. Analis tidak lagi mencari dokumen, klien mendapat laporan yang lebih meyakinkan, dan risiko keliru mengambil keputusan berkurang.

Langkah awalnya tidak harus besar. Banyak laboratorium memulai dengan pertemuan singkat mingguan selama lima belas menit: satu topik mutu, satu temuan kecil, satu perbaikan yang disepakati. Dalam beberapa bulan, kebiasaan itu mengubah cara tim memandang audit, dari peristiwa yang ditakuti menjadi pemeriksaan rutin atas pekerjaan yang memang sudah rapi. Auditor pun cenderung membaca hal ini dengan jelas, karena budaya mutu terlihat dari cara analis menjawab, bukan dari tebalnya map dokumen.

Peran Uji Profisiensi sebagai Cermin Objektif

Dari seluruh langkah perbaikan, uji profisiensi adalah salah satu yang paling sering dijadikan bukti objektif kompetensi. Skema yang tepat membantu laboratorium melihat posisinya dibanding laboratorium lain, mendeteksi bias yang tidak terlihat dari dalam, dan menunjukkan kepada auditor bahwa kompetensi dipantau secara berkala.

Dalam praktiknya, tantangan laboratorium sering bukan pada niat, melainkan pada pemilihan skema: apakah matriks dan parameternya sesuai ruang lingkup uji, apakah jadwal putarannya selaras dengan kalender kerja laboratorium, dan bagaimana hasilnya dibaca lalu ditindaklanjuti.

Untuk kebutuhan tersebut, PT Karunia Jasindo menyediakan akses ke program LGC AXIO Proficiency Testing. Laboratorium dapat memanfaatkannya untuk:

  • Memetakan ruang lingkup uji terhadap skema yang tersedia, sehingga partisipasi tidak sekadar memenuhi formalitas.
  • Menyusun rencana profisiensi tahunan yang konsisten dan mudah ditunjukkan kepada auditor.
  • Menjadikan hasil sebagai bahan CAPA, yakni investigasi, perbaikan, dan verifikasi efektivitas ketika ada hasil yang menyimpang.

Sebelum memutuskan skema, ada baiknya laboratorium mencocokkan dulu daftar parameter uji utamanya dengan katalog yang tersedia. Tim PT Karunia Jasindo dapat membantu proses pencocokan ini.

Penutup: Siapkan dari Sekarang, Bukan Seminggu Sebelumnya

Tiga red flag yang dibahas di sini, yaitu integritas data yang goyah, metode dan peralatan yang belum terjamin ketertelusurannya, serta jaminan mutu yang lemah dan tindak lanjut yang formalitas, sebenarnya bisa dicegah. Tidak dengan proyek besar dan mahal, tetapi dengan disiplin harian yang konsisten.

Mulailah dari yang sederhana: lakukan uji ketertelusuran acak minggu ini, rapikan jadwal kalibrasi bulan ini, dan susun rencana profisiensi untuk tahun berikutnya. Ketika auditor BPOM atau BPJPH datang, laboratorium Anda tidak perlu “tampil baik” secara mendadak. Ia cukup menunjukkan cara kerja yang memang sudah baik.

Ingin memastikan rencana uji profisiensi laboratorium Anda sudah sesuai ruang lingkup uji? Konsultasikan dengan tim PT Karunia Jasindo dan pelajari program LGC AXIO Proficiency Testing yang dapat mendukung kesiapan audit laboratorium Anda.

Hubungi Kami

Artikel Catalogue

Share this

Signup our newsletter to get update information, news, insight or promotions.