LGC Menghadiri AOAC International Southeast Asia (SEA) Section 20–21 Oktober 2026 di Hotel Borobudur, PT Karunia Jasindo dengan Bangga Mendukung dan Menghadiri Undangan Tersebut

konferensi AOAC SEA Section 2026 di Hotel Borobudur Jakarta

Jakarta sedang menjadi pusat perbincangan para ahli analisis pangan se-Asia Tenggara. Pada 20–21 Oktober 2026, Hotel Borobudur Jakarta menjadi tuan rumah AOAC SEA Section 2026, konferensi tahunan kelima dari AOAC International Southeast Asia Section. Di antara para peserta yang hadir terdapat LGC, penyedia reference material dan standar analitik yang namanya sudah akrab di meja kerja banyak laboratorium. Mitra LGC di Indonesia, PT Karunia Jasindo, turut hadir memenuhi undangan tersebut dan dengan bangga menyatakan dukungannya.

Hari ini, 21 Oktober, konferensi memasuki hari kedua. Artikel ini merangkum apa yang membuat acara ini penting, bagaimana posisinya dalam peta harmonisasi metode analisis kawasan, dan apa artinya bagi laboratorium Indonesia yang bekerja setiap hari dengan sampel pangan, bahan baku, dan produk ekspor.

Sekilas tentang AOAC SEA Section 2026

AOAC INTERNATIONAL adalah organisasi ilmiah global yang selama puluhan tahun dikenal lewat satu pekerjaan yang kedengarannya sederhana, tetapi dampaknya luas: menetapkan metode analisis yang dapat dipercaya bersama. Ketika dua laboratorium di dua negara menguji sampel yang sama dengan metode yang sama, hasilnya seharusnya sebanding. Itulah inti dari standardisasi metode, dan AOAC mempertemukan pemerintah, industri, serta akademisi untuk mewujudkannya.

Konferensi kelima ini mengusung tema “Navigating the Future of Food Safety: Innovation, Resilience, and Harmonization”. Tiga kata kunci di dalamnya, yaitu inovasi, ketahanan, dan harmonisasi, mencerminkan tantangan nyata kawasan: teknologi uji yang berkembang cepat, rantai pasok pangan yang rentan terhadap gangguan, dan perbedaan standar antarnegara yang masih sering menyulitkan perdagangan.

Penyelenggaraan tahun ini dilakukan bersama Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan (PPPOMN), lembaga di bawah otoritas pengawas obat dan makanan Indonesia, dengan Asia Pacific Metrology Programme (APMP) sebagai association partner. Kehadiran lembaga pengujian pemerintah dan komunitas metrologi regional menunjukkan bahwa agenda acara ini tidak berhenti di ruang seminar. Pembahasannya menyentuh kebutuhan regulator, laboratorium, dan industri sekaligus.

Salah satu pembicara plenary yang diumumkan adalah Prof. Purwiyatno Hariyadi, PhD, yang membawakan topik tantangan keamanan pangan baru di Indonesia serta kesiapan regulasinya. Topik semacam ini relevan bagi siapa pun yang bekerja di rantai pangan, karena regulasi baru hampir selalu berarti kebutuhan pengujian baru.

Dari Singapura hingga Jakarta: Perjalanan Lima Tahun

AOAC SEA Section dibentuk pada 2021 setelah disetujui Board AOAC INTERNATIONAL pada Juni tahun yang sama. Dalam waktu singkat, jangkauannya berkembang hingga mencakup 11 negara di kawasan. Pertumbuhan ini diakui secara internasional: Section ini dinobatkan sebagai AOAC International Section of the Year pada 2024 dan kembali meraih predikat tersebut pada 2026.

Konferensi tahunannya berpindah dari satu negara ke negara lain. Singapura menjadi tuan rumah pada 2022, disusul Vietnam pada 2023, Filipina pada 2024, dan Bangkok pada 2025. Masing-masing edisi dilaporkan menarik lebih dari 200 delegasi. Kini giliran Jakarta. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar kehormatan sebagai tuan rumah. Ini juga kesempatan untuk memperkenalkan kapasitas laboratorium nasional kepada komunitas analitik kawasan, sekaligus membawa pulang praktik terbaik yang bisa diterapkan di dalam negeri.

Pola perpindahan lokasi ini sebenarnya cerdas. Setiap negara membawa isu lokalnya ke meja diskusi. Singapura dengan standar regulasinya yang ketat, Vietnam dan Filipina dengan sektor perikanan dan pertanian yang besar, Thailand sebagai eksportir pangan utama, dan Indonesia dengan pasar domestik yang luas serta regulasi halal yang baru memasuki babak penting. Dari keragaman itulah harmonisasi menjadi agenda yang konkret, bukan jargon.

Mengapa Harmonisasi Metode Analisis Itu Penting

Bayangkan sebuah produsen pangan di Indonesia mengekspor produknya ke dua negara tetangga. Di negara pertama, hasil uji kandungan tertentu diterima. Di negara kedua, laboratorium otoritas memakai metode berbeda dan memperoleh angka yang berbeda, sehingga kiriman tertahan. Tidak ada yang berbohong dalam skenario ini. Yang terjadi adalah dua metode yang tidak selaras. Kerugian waktu, biaya, dan reputasi nyata dirasakan oleh produsen.

Itulah alasan AOAC SEA membentuk Working Group on Harmonization of Methods. Kelompok kerja ini menggelar webinar tentang mikotoksin pada 22 Mei 2026 dan menjalankan inisiatif terkait residu pestisida pada herbs and spices. Kedua topik tersebut bukan pilihan acak. Mikotoksin dan residu pestisida adalah dua penyebab klasik penolakan produk pangan di perdagangan internasional.

Agenda yang tidak kalah menarik adalah halal. AOAC Joint Expert Core Team on Harmonization of Analytical Methods for Halal Food Certification, kolaborasi antara AOAC Arab Section dan AOAC SEA, meluncurkan survei global pada 16 Juni 2026. Pada konferensi 2025 di Bangkok, Laboratorium LPPOM MUI bahkan mengusulkan pembentukan Halal Testing Harmonization Working Group di bawah AOAC SEA. Di tingkat bilateral, Indonesia dan Malaysia pada Mei 2026 membahas standar halal regional beserta harmonisasi metode uji kandungan babi.

Rangkaian inisiatif ini menunjukkan satu hal: uji laboratorium tidak lagi sekadar urusan teknis di belakang layar. Ia menjadi bahasa bersama dalam perdagangan, kepatuhan, dan perlindungan konsumen. Topik lain yang ikut mengemuka di forum-forum AOAC SEA, seperti PFAS, mikotoksin, pestisida, dan keamanan pangan lintas batas, memperlihatkan betapa luasnya pekerjaan rumah yang sedang dibagi bersama.

LGC di Panggung Kawasan

LGC merupakan nama besar dalam dunia reference material, proficiency testing, dan standar analitik. Bagi laboratorium, reference material adalah titik acuan yang menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah hasil ukur kami benar? Tanpa acuan yang tertelusur, sebuah angka hanya menjadi klaim. Dengan acuan yang tepat, angka itu bisa dipertanggungjawabkan di hadapan auditor, regulator, dan pelanggan.

Kehadiran LGC pada konferensi seperti AOAC SEA Section 2026 masuk akal secara strategis. Forum ini mempertemukan para pengguna akhir produk LGC, yaitu laboratorium pemerintah, laboratorium industri, dan akademisi, dengan para perumus metode yang menentukan arah praktik analitik kawasan. Pertemuan semacam ini memungkinkan produsen standar memahami kebutuhan lapangan secara langsung: matriks sampel mana yang paling sulit, analit mana yang paling mendesak, dan celah ketersediaan bahan acuan mana yang perlu ditutup.

Perlu dicatat, artikel ini sengaja tidak menjabarkan agenda sesi atau materi presentasi tertentu dari LGC. Konferensi masih berlangsung, dan rincian teknis sebaiknya mengikuti informasi resmi dari penyelenggara serta LGC sendiri. Yang dapat disampaikan dengan pasti adalah bahwa LGC hadir, dan kehadiran itu memperkuat jembatan antara produsen standar dan komunitas laboratorium di Asia Tenggara.

PT Karunia Jasindo: Hadir dan Mendukung dengan Bangga

Di sisi Indonesia, PT Karunia Jasindo menerima undangan untuk hadir pada acara ini dan memenuhinya dengan antusias. Sebagai penyedia solusi laboratorium yang melayani kebutuhan reagent, reference standard, proficiency testing, mikrobiologi, consumables, hingga instrumen, serta bermitra dengan LGC, perusahaan ini melihat AOAC SEA Section sebagai ruang temu yang bernilai.

Ada tiga alasan mengapa kehadiran ini bermakna. Pertama, mendengar langsung. Dinamika regulasi dan metode berubah cepat, dan konferensi seperti ini memberi gambaran awal tentang arah perubahan sebelum ia sampai ke meja kerja laboratorium. Kedua, menjaga hubungan. Ekosistem laboratorium dibangun dari kepercayaan antara pengguna, distributor, dan prinsipal. Bertemu muka tetap tidak tergantikan. Ketiga, mendukung komunitas. Dengan hadir, PT Karunia Jasindo ikut menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal peduli pada penguatan kualitas pengujian nasional, bukan hanya pada transaksi.

Pendekatan yang dipegang tim PT Karunia Jasindo sederhana. Laboratorium tidak sekadar membutuhkan produk. Laboratorium membutuhkan rekan yang memahami konteks kerjanya: sampel apa yang diuji, standar apa yang dirujuk, akreditasi apa yang sedang dikejar. Karena itu, ketika sebuah acara seperti ini membuka wawasan baru, tujuan akhirnya adalah menerjemahkannya menjadi dukungan yang praktis bagi pelanggan di Indonesia.

Insight untuk Laboratorium Indonesia

Apa yang bisa dipetik laboratorium di Indonesia dari acara sebesar ini, bahkan oleh mereka yang tidak hadir? Beberapa poin berikut bisa dijadikan bahan refleksi internal.

1. Harmonisasi berarti tuntutan keterbandingan data

Ketika metode kawasan semakin selaras, hasil uji dari laboratorium Anda akan lebih sering dibandingkan dengan hasil dari laboratorium lain, termasuk di negara tujuan ekspor. Keterbandingan tidak mungkin dicapai tanpa ketertelusuran. Artinya, penggunaan reference material bersertifikat dan kalibrasi yang terdokumentasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan fondasi.

2. Validasi dan verifikasi metode harus rapi

Standar mutu laboratorium seperti ISO/IEC 17025 menuntut laboratorium memastikan metode yang dipakai sesuai tujuan. Metode yang diakui secara regional membantu, tetapi verifikasi di laboratorium sendiri tetap wajib. Catatan validasi yang lengkap akan sangat berguna ketika regulator atau auditor meminta bukti.

3. Uji profisiensi sebagai cermin

Proficiency testing memberi gambaran objektif tentang posisi laboratorium dibandingkan peserta lain. Hasil yang konsisten membangun kepercayaan diri, sementara hasil yang menyimpang justru menjadi petunjuk perbaikan yang berharga. Di tengah gelombang harmonisasi, partisipasi rutin pada skema uji profisiensi menjadi sinyal profesionalisme yang mudah dibaca pelanggan.

4. Isu halal akan menuntut kesiapan analitik

Dengan regulasi wajib halal yang bergerak maju dan inisiatif harmonisasi metode uji halal yang sedang dibahas di forum AOAC, laboratorium yang menangani uji kandungan tertentu perlu mulai menyiapkan kapasitas, bahan acuan, dan prosedur. Mereka yang bergerak lebih awal akan lebih siap ketika permintaan uji meningkat.

5. Kontaminan baru memerlukan kewaspadaan lama

PFAS, mikotoksin, dan residu pestisida adalah contoh analit yang terus mendapat perhatian regulator. Meski nama zatnya berbeda-beda, prinsip kerjanya tetap sama: batas deteksi yang memadai, standar yang akurat, dan kontrol kualitas yang konsisten. Laboratorium yang disiplin pada prinsip ini akan lebih mudah beradaptasi ketika daftar analit bertambah.

Mengapa Acara Seperti Ini Layak Diikuti Pelaku Industri

Sering muncul anggapan bahwa konferensi ilmiah hanya relevan bagi akademisi. Kenyataannya, banyak keputusan praktis lahir dari percakapan di sela sesi: sebuah metode yang ternyata lebih efisien, sebuah regulasi yang sedang dirancang dan perlu diantisipasi, atau sebuah kolaborasi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Bagi manajer laboratorium, konferensi adalah cara murah untuk memperpendek kurva belajar.

Bagi industri, forum seperti AOAC SEA membuka akses ke pandangan regulator secara terbuka. Memahami alasan di balik sebuah persyaratan membuat perusahaan lebih mudah menyusun strategi kepatuhan, alih-alih sekadar bereaksi ketika aturan sudah berlaku. Untuk produsen yang berorientasi ekspor, ini berarti risiko penolakan produk dapat ditekan sejak dini.

Bagi akademisi dan peneliti, konferensi menjadi tempat menguji relevansi riset terhadap kebutuhan lapangan. Metode baru yang menjanjikan di laboratorium riset hanya bermanfaat bila dapat dipakai, divalidasi, dan diadopsi oleh laboratorium rutin. Dialog antar-sektor yang difasilitasi AOAC mempercepat proses itu.

Ada pula nilai yang kerap luput dihitung, yakni jejaring. Satu percakapan singkat antara manajer mutu dari Indonesia dan analis dari negara tetangga dapat membuka jalur berbagi pengalaman tentang kendala yang sama, misalnya sulitnya mendapatkan bahan acuan untuk matriks tertentu atau cara menafsirkan kriteria penerimaan hasil. Pengetahuan praktis seperti ini jarang tertulis di dokumen metode, tetapi sangat menolong ketika laboratorium menghadapi masalah di lapangan. Karena itu, kehadiran langsung tetap memiliki tempat di era pertemuan daring.

Menutup Jarak antara Standar dan Praktik

Satu pelajaran yang sering terlewat dari acara-acara harmonisasi adalah bahwa dokumen metode saja tidak cukup. Dokumen dapat dibaca siapa pun, tetapi hasil yang baik membutuhkan rangkaian pendukung yang utuh: personel terlatih, peralatan yang terawat, reagent berkualitas, bahan acuan yang tepat, dan sistem mutu yang hidup. Di sinilah peran penyedia solusi laboratorium menjadi nyata. Ketersediaan reference material yang sesuai matriks, pasokan consumables yang konsisten, dan dukungan teknis yang responsif menentukan apakah sebuah metode standar benar-benar berjalan baik di meja kerja.

Itu pula sebabnya hubungan antara prinsipal global seperti LGC dan mitra lokal seperti PT Karunia Jasindo penting. Prinsipal membawa kualitas produk dan jaringan keilmuan. Mitra lokal membawa pemahaman pasar, ketersediaan, layanan, dan kedekatan dengan pelanggan. Keduanya saling melengkapi agar pengetahuan yang dibahas di Hotel Borobudur dapat sampai ke laboratorium di berbagai kota di Indonesia.

Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Konferensi

Sebuah konferensi baru benar-benar berhasil jika ada tindak lanjut. Bagi laboratorium dan perusahaan yang mengikuti atau memantau hasil AOAC SEA Section 2026, berikut langkah sederhana yang dapat diambil:

– Rangkum temuan penting dan bagikan ke tim, jangan berhenti di satu orang.

– Petakan analit dan metode di laboratorium Anda yang berpotensi terdampak oleh inisiatif harmonisasi.

– Tinjau ketersediaan reference material dan jadwal kalibrasi untuk analit prioritas.

– Evaluasi partisipasi Anda pada skema uji profisiensi untuk tahun depan.

– Siapkan pertanyaan teknis untuk dibahas dengan pemasok dan prinsipal.

Langkah-langkah kecil ini tampak biasa, tetapi konsistensi pada hal-hal biasa itulah yang membedakan laboratorium yang sekadar menjalankan prosedur dari laboratorium yang benar-benar dipercaya.

Penutup

AOAC SEA Section 2026 memperlihatkan arah yang jelas: Asia Tenggara bergerak menuju keselarasan metode analisis, dan Indonesia berada di tengah arus itu sebagai tuan rumah. LGC hadir di dalamnya, PT Karunia Jasindo bangga mendukung dan menghadiri undangan tersebut, dan laboratorium di seluruh negeri berkesempatan memetik manfaatnya bila bersedia bersiap sejak sekarang.

Pada akhirnya, kualitas data laboratorium adalah kepercayaan yang dibangun sedikit demi sedikit: lewat metode yang tepat, bahan acuan yang tertelusur, dan kemitraan yang dapat diandalkan. Konferensi dua hari ini hanyalah salah satu titik dalam perjalanan panjang tersebut.

 

Butuh dukungan reference material, proficiency testing, atau solusi laboratorium lainnya? Tim PT Karunia Jasindo siap membantu laboratorium Anda menyiapkan diri menghadapi harmonisasi metode dan tuntutan kepatuhan yang terus berkembang. Hubungi kami di www.karusindo.com atau sales@karusindo.com.

Share this

Signup our newsletter to get update information, news, insight or promotions.