Webinar Proficiency Testing 15 Oktober 2026 Kupas Kesiapan Audit dari KAN hingga BPOM dan BPJPH

Setiap laboratorium pernah berada di momen yang sama. Kabar audit atau asesmen datang, dokumen dibuka kembali, rekaman dicek satu per satu, lalu satu pertanyaan muncul di kepala tim mutu: apakah bukti kompetensi kami sudah cukup kuat?

Pertanyaan itulah yang diangkat PT Karunia Jasindo (PTKJ) lewat webinar bertajuk “Laboratorium Anda Siap Diaudit? Proficiency Testing untuk Laboratorium Siap Audit”. Webinar gratis ini digelar pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 13.30–16.30 WIB melalui Zoom Meeting. Acara diselenggarakan bersama LGC AXIO Proficiency Testing dan menghadirkan narasumber dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Cakupan temanya luas, dari ISO/IEC 17025 dan KAN hingga BPOM dan BPJPH. Pembahasan tidak berhenti pada satu standar. Ia menyentuh ekosistem yang membuat hasil uji sebuah laboratorium bisa dipercaya oleh regulator, industri, dan konsumen. Berikut rangkuman acara dan sejumlah insight profesional yang bisa langsung dibawa ke meja kerja Anda.

Mengapa Kesiapan Audit Kini Jadi Isu Bersama

Tim mutu laboratorium meninjau dokumen kesiapan audit

Gambar : Tim mutu laboratorium meninjau dokumen kesiapan audit

Bagi laboratorium pengujian dan kalibrasi, audit bukan peristiwa yang selesai begitu auditor pulang. Ia adalah cermin kebiasaan sehari-hari: bagaimana sampel ditangani, bagaimana data dicatat, dan bagaimana penyimpangan ditindaklanjuti. Laboratorium yang baru mulai berbenah seminggu sebelum asesmen biasanya kewalahan, karena bukti yang dicari auditor tidak bisa dibuat dalam semalam.

Tekanannya juga datang dari berbagai arah. Laboratorium terakreditasi harus memenuhi SNI ISO/IEC 17025:2017 dan kebijakan KAN. Laboratorium di sektor obat dan makanan berhadapan dengan pengawasan BPOM. Di sisi lain, ekosistem jaminan produk halal yang dikelola BPJPH melibatkan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang juga membutuhkan hasil uji yang bisa dipertanggungjawabkan. Pabrikan, tim QA, dan tim QC pun ikut berkepentingan, sebab keputusan pelepasan produk bergantung pada angka yang keluar dari laboratorium.

Di titik inilah bukti kompetensi eksternal menjadi krusial. Klaim “metode kami sudah tervalidasi” jauh lebih meyakinkan bila didukung perbandingan objektif dengan laboratorium lain. Perbandingan itulah yang disediakan oleh uji profisiensi.

Proficiency Testing: Bukan Sekadar Formalitas

Ilustrasi alur uji profisiensi antar laboratorium

Gambar : Ilustrasi alur uji profisiensi antarlaboratorium

Proficiency testing (PT), atau uji profisiensi, adalah program perbandingan antarlaboratorium. Penyelenggara mengirimkan sampel yang sama kepada banyak peserta. Masing-masing peserta menganalisis dengan metodenya sendiri, lalu hasilnya dievaluasi secara statistik terhadap nilai acuan. Laboratorium kemudian menerima laporan yang menunjukkan posisi hasilnya dibandingkan peserta lain.

Dalam kerangka SNI ISO/IEC 17025:2017, Klausul 7.7 meminta laboratorium memiliki prosedur pemantauan validitas hasil, termasuk partisipasi dalam uji profisiensi atau perbandingan antarlaboratorium. Kebijakan KAN, termasuk dokumen KAN U-08 yang berlaku, menjabarkan bagaimana partisipasi itu direncanakan, dipilih penyelenggaranya, dan ditindaklanjuti.

Sayangnya, PT sering diperlakukan sebagai formalitas: ikut satu putaran, simpan sertifikat, selesai. Padahal nilai sebenarnya ada pada cara laboratorium memilih skema, membaca laporan, dan bereaksi terhadap sinyal kinerja. Tiga poin di flyer webinar, yaitu pahami peran uji profisiensi, identifikasi celah kesiapan audit, dan perkuat keandalan hasil uji, pada dasarnya adalah tiga tahap kematangan tersebut.

Sekilas Webinar: Tanggal, Waktu, dan Format

Persiapan mengikuti webinar laboratorium via Zoom

Gambar : Persiapan mengikuti webinar laboratorium via Zoom

Webinar ini dirancang sebagai acara terpadu berdurasi 180 menit. Rincian pentingnya:

  • Hari dan tanggal: Kamis, 15 Oktober 2026
  • Waktu:13:30–16.30 WIB
  • Platform: Zoom Meeting
  • Biaya: Free Limited Seat
  • Peserta sasaran: laboratorium, pabrikan, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), serta tim QA, QC, dan pihak terkait lainnya

Urutan acaranya disusun logis. Sesi dibuka dengan fondasi kebijakan dari KAN, dilanjutkan pengenalan PTKJ dan portofolio LGC, lalu sesi teknis dari LGC AXIO, dan ditutup dengan penutupan administratif. Jeda 15 menit disediakan di tengah acara agar peserta bisa beristirahat dan transisi teknis ke sesi internasional berjalan mulus. Dengan begitu, acara dapat selesai tepat waktu.

Rundown 180 Menit: Ke Mana Waktu Anda Pergi

Rundown webinar Proficiency Testing berdurasi 180 menit

Gambar : Rundown webinar Proficiency Testing berdurasi 180 menit

Bagi peserta yang ingin merencanakan waktu, berikut susunan acaranya:

  • 30–13.40 Pembukaan oleh panitia PTKJ, berisi gambaran acara dan perkenalan narasumber
  • 40–14.40 Kebijakan KAN dan tanya jawab
  • 40–15.00 Profil PTKJ dan portofolio LGC
  • 00–15.15 Jeda dan transisi teknis
  • 15–16.15 Sesi LGC PT, tanya jawab, dan lima pertanyaan kuis
  • 15–16.30 Penutupan, sertifikat, dan formulir umpan balik

Perhatikan komposisinya. Dua sesi utama masing-masing berdurasi 60 menit, dan keduanya menyisihkan waktu khusus untuk tanya jawab. Artinya, webinar ini tidak dirancang sebagai ceramah satu arah. Peserta yang datang dengan pertanyaan konkret, misalnya soal skema PT yang cocok untuk parameter tertentu, justru akan mendapat manfaat paling besar. Panitia juga menyiapkan pembagian waktu yang ketat agar sesi tidak molor dan penutupan tetap berjalan sesuai jadwal.

Sesi Pertama: Kebijakan KAN dan Bukti Kompetensi Laboratorium

Ilustrasi asesmen akreditasi dan bukti kompetensi laboratorium

Gambar : Ilustrasi asesmen akreditasi dan bukti kompetensi laboratorium

Sesi inti pertama diisi Fajarina Budiantari, S.T.P., M.Si., Direktur Akreditasi Lembaga Inspeksi dan Lembaga Sertifikasi KAN, yang tampil pada 13.40–14.40 WIB. Dari 60 menit yang tersedia, sekitar 45 menit direncanakan untuk pemaparan dan 15 menit untuk tanya jawab.

Materinya menjawab pertanyaan yang paling sering muncul di lapangan:

  • Kebijakan KAN terkini, termasuk dokumen KAN U-08 yang berlaku, tentang partisipasi uji profisiensi untuk memenuhi Klausul 7.7 SNI ISO/IEC 17025:2017.
  • Perencanaan PT berbasis risiko, pemilihan penyelenggara, kesesuaian ruang lingkup, serta bukti yang ditinjau saat asesmen. Termasuk pilihan perbandingan antarlaboratorium atau pendekatan alternatif ketika program PT yang sesuai belum tersedia.
  • Kaitan standardisasi laboratorium ISO/IEC 17025 dengan validitas hasil uji dan kesiapan menghadapi pengawasan BPOM serta ekosistem LPH dan BPJPH.
  • Langkah yang diharapkan KAN ketika laboratorium memperoleh hasil outlier atau tidak memuaskan: evaluasi dampak, investigasi akar masalah, koreksi, tindakan korektif, dokumentasi CAPA, dan verifikasi efektivitas.

Poin terakhir patut digarisbawahi. Dalam praktik, hasil outlier bukan akhir cerita. Yang dinilai sering kali bukan hanya angkanya, melainkan seberapa disiplin laboratorium menelusuri penyebab dan membuktikan bahwa perbaikannya berhasil. Laboratorium yang terbiasa mendokumentasikan proses itu akan jauh lebih tenang saat asesmen tiba.

Sesi Kedua: Mengenal PTKJ dan Portofolio LGC

Sampel uji profisiensi dan bahan acuan bersertifikat untuk laboratorium

Gambar : Sampel uji profisiensi dan bahan acuan bersertifikat untuk laboratorium

Pada 14.40–15.00 WIB, Carina M. Munardi mewakili PTKJ dalam sesi ringkas 20 menit. Ia memperkenalkan profil perusahaan, portofolio Proficiency Testing LGC, dan portofolio Certified Reference Materials (CRM) LGC.

Sesi ini berfungsi sebagai jembatan. Setelah peserta memahami kerangka kebijakan dari KAN, mereka diajak melihat bagaimana kebutuhan itu bisa dipetakan ke produk dan layanan yang tersedia. Peserta juga akan mengenali kategori PT yang ada dan cara memulai pemetaan kebutuhan laboratorium masing-masing.

PTKJ sendiri memosisikan diri sebagai mitra untuk seluruh kebutuhan laboratorium, sejalan dengan tagline yang tertera di flyer: Driven by Quality, Guided by Integrity dan For All Your Laboratory Needs. Bagi laboratorium yang selama ini mencari rujukan jelas soal penyedia PT dan bahan acuan, sesi ini menjadi pintu masuk yang praktis.

Sesi Ketiga: LGC AXIO dan Seni Memilih Skema PT yang Tepat

Pemilihan skema PT untuk laboratorium kosmetik, pangan, farmasi, dan halal

Gambar : Pemilihan skema PT untuk laboratorium kosmetik, pangan, farmasi, dan halal

Setelah jeda, panggung berpindah ke Dominic Hasson, BBA, Business Development Manager LGC AXIO, pada 15.15–16.15 WIB. Sesi 60 menit ini berisi pemaparan teknis sekitar 40 menit, lima pertanyaan kuis 10 menit, dan tanya jawab 10 menit.

Salah satu bahasan utamanya adalah peran LGC AXIO sebagai penyelenggara PT, termasuk hubungan antara ISO/IEC 17043 dan ruang lingkup akreditasi UKAS, serta batasan klaim untuk program yang berakreditasi dan yang non-UKAS. Bagi laboratorium, bagian ini penting karena menyangkut cara Anda menuliskan dan mempertanggungjawabkan bukti partisipasi PT di hadapan asesor.

Pesan kuncinya sederhana tetapi sering terlewat: akreditasi penyelenggara tidak otomatis mencakup setiap program. Kesesuaian harus diperiksa sampai tingkat skema, matriks, analit, dan putaran.

Dari sisi pemilihan skema, peserta akan diajak menimbang beberapa faktor:

  • matriks sampel dan analit yang diuji,
  • rentang konsentrasi,
  • metode yang digunakan laboratorium,
  • jadwal putaran,
  • kebutuhan sektor, mulai dari kosmetik, makanan dan minuman, farmasi, hingga halal.

Contoh produk yang direncanakan menjadi bahan diskusi cukup beragam: mikrobiologi, logam berat, 1,4-dioksan, akrilamida, dietilen glikol, parameter farmasi, dan pengujian halal. Keragaman ini menunjukkan bahwa PT bukan urusan satu sektor saja. Untuk area yang cakupannya belum sepenuhnya tersedia, misalnya sebagian pengujian halal, pembahasan diarahkan agar celah cakupan dan bukti alternatif dijelaskan secara transparan.

PT dan CRM: Dua Alat yang Sering Tertukar

Perbedaan fungsi Proficiency Testing dan Certified Reference Materials

Gambar : Perbedaan fungsi Proficiency Testing dan Certified Reference Materials

Satu bagian yang layak mendapat perhatian khusus adalah pembedaan antara Proficiency Testing dan Certified Reference Materials. Keduanya sama-sama hadir di portofolio LGC, tetapi fungsinya berbeda.

CRM dipakai laboratorium untuk validasi metode dan pengendalian mutu internal. Anggap saja sebagai penggaris yang sudah terkalibrasi, yang Anda pegang sendiri setiap hari. PT, sebaliknya, adalah evaluasi eksternal atas kompetensi. Anda tidak memegang jawaban benarnya, sehingga posisi Anda diukur oleh pihak lain.

Contoh yang diangkat dalam materi acara cukup jelas. CRM terkait dietilen glikol (DEG) berguna untuk validasi atau QC, tetapi ia tidak menggantikan PT. Laboratorium yang mengandalkan CRM saja untuk menjawab tuntutan Klausul 7.7 berisiko dianggap belum memiliki perbandingan eksternal yang memadai. Sebaliknya, laboratorium yang hanya mengandalkan PT tanpa CRM akan kesulitan menemukan sumber penyimpangan dalam metodenya sendiri. Idealnya, keduanya berjalan berdampingan.

Membaca Laporan PT dan Menyiapkan Bukti untuk Asesmen

Analisis laporan hasil uji profisiensi dan penyusunan dokumentasi CAPA

Gambar : Analisis laporan hasil uji profisiensi dan penyusunan dokumentasi CAPA

Sesi Dominic juga akan membahas cara membaca laporan hasil, mengenali sinyal kinerja, dan menyiapkan informasi yang berguna untuk investigasi dan CAPA. Ini keterampilan yang kerap dianggap remeh, padahal laporan PT kaya informasi. Ia tidak hanya memberi tahu apakah hasil Anda “lulus”, tetapi juga menunjukkan kecenderungan, misalnya bias yang konsisten ke satu arah.

Untuk kesiapan asesmen, ada beberapa jenis bukti yang lazim perlu tersimpan rapi:

  • rencana partisipasi PT beserta dasar pertimbangan risikonya,
  • alasan pemilihan penyelenggara dan skema, termasuk kesesuaian cakupan,
  • laporan hasil dan evaluasi kinerja untuk setiap putaran,
  • catatan investigasi, tindakan korektif, dan verifikasi efektivitas bila ada hasil yang menyimpang.

Laboratorium yang memelihara jejak ini secara konsisten tidak perlu panik ketika asesor meminta bukti. Yang mereka lakukan hanyalah membuka arsip yang memang sudah tertata. Tentu, penerimaan akhir atas bukti PT tetap menjadi kewenangan badan akreditasi atau regulator terkait.

Tiga Jebakan Umum dalam Menjalankan PT

Tiga jebakan umum laboratorium dalam menjalankan uji profisiensi

Gambar : Tiga jebakan umum laboratorium dalam menjalankan uji profisiensi

Dari materi yang dibahas dalam webinar, kita bisa menarik beberapa pelajaran praktis. Tiga jebakan berikut sering ditemui di lapangan, dan semuanya bisa dihindari dengan perencanaan yang lebih matang.

Jebakan pertama: memilih skema karena mudah, bukan karena sesuai. Godaan untuk mengikuti skema yang paling mudah diakses atau paling murah memang besar, terutama ketika anggaran terbatas. Namun, skema yang tidak selaras dengan matriks, analit, dan rentang konsentrasi pengujian Anda memberi bukti yang lemah. Pesan dari sesi LGC AXIO relevan di sini: kesesuaian perlu dicek sampai tingkat skema, matriks, analit, dan putaran.

Jebakan kedua: puas dengan predikat “memuaskan” lalu berhenti belajar. Hasil yang berada dalam batas evaluasi tentu kabar baik. Tetapi laporan PT juga menyimpan informasi tentang kecenderungan. Bias yang konsisten ke arah yang sama dari putaran ke putaran adalah sinyal yang layak ditelusuri sebelum ia berubah menjadi hasil outlier.

Jebakan ketiga: menyusun dokumentasi mendekati asesmen. Catatan investigasi, tindakan korektif, dan verifikasi efektivitas paling kredibel bila dibuat ketika kejadian berlangsung. Dokumen yang disusun terburu-buru menjelang audit biasanya terlihat dari kronologinya yang janggal. Kebiasaan mencatat secara real time membuat laboratorium lebih siap sekaligus lebih tenang.

Satu Bukti, Banyak Pintu: Kaitan dengan BPOM dan BPJPH

Hasil uji laboratorium yang valid mendukung kepatuhan pada berbagai pengawasan

Gambar : Hasil uji laboratorium yang valid mendukung kepatuhan pada berbagai pengawasan

Judul webinar menyebut ISO/IEC 17025 dan KAN hingga BPOM dan BPJPH. Rangkaian ini menarik karena menunjukkan bahwa kompetensi laboratorium bukan urusan satu institusi. Standardisasi laboratorium berbasis ISO/IEC 17025 menjadi fondasi validitas hasil uji. Di atas fondasi itu, laboratorium melayani industri yang diawasi BPOM dan ekosistem halal yang melibatkan LPH dan BPJPH.

Dalam praktiknya, hasil uji yang bisa dipertanggungjawabkan menjadi mata uang bersama. Ia dipakai produsen untuk memutuskan pelepasan produk, dipakai LPH untuk mendukung proses pemeriksaan, dan dipakai laboratorium sendiri untuk menunjukkan kompetensinya kepada asesor. Laboratorium yang kuat di sisi PT dan dokumentasinya akan lebih mudah menjawab pertanyaan dari semua pihak tersebut, tanpa harus menyusun bukti baru untuk setiap audiens.

Tentu, persyaratan spesifik setiap lembaga bisa berbeda dan berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, peserta sebaiknya memanfaatkan sesi tanya jawab untuk mengklarifikasi hal-hal yang berlaku pada sektor masing-masing, dan tetap merujuk pada ketentuan resmi lembaga terkait.

Kuis, Hadiah, dan E-Certificate untuk Peserta

Manfaat webinar: e-certificate, hadiah, dan kuis berhadiah

Gambar : Manfaat webinar: e-certificate, hadiah, dan kuis berhadiah

Webinar teknis tidak harus membosankan. Panitia menyiapkan beberapa daya tarik tambahan bagi peserta:

  • Gratis tanpa biaya pendaftaran.
  • Hadiah untuk 10 pendaftar pertama.
  • Quiz giveaway: lima pertanyaan dari Mr. Dominic dengan hadiah dari PTKJ. Pertanyaan bisa disisipkan setelah tiap kelompok topik agar suasana tetap interaktif.
  • E-Certificate, dengan ketentuan kehadiran yang akan dijelaskan panitia.

Materi kuisnya sendiri menarik sebagai bahan belajar: membedakan akreditasi penyelenggara dari ruang lingkup program, memilih matriks dan analit PT yang paling relevan, membedakan tujuan PT dan CRM, mengidentifikasi bukti yang harus disimpan, serta menentukan langkah pertama saat hasil PT tidak memuaskan atau outlier. Bila Anda bisa menjawab kelimanya dengan percaya diri, kesiapan audit Anda sudah cukup baik.

Pada penutupan pukul 16.15–16.30 WIB, panitia akan membagikan sertifikat partisipasi, tautan formulir umpan balik, informasi tindak lanjut, dan ringkasan presentasi sebagaimana diizinkan narasumber. Informasi kontak PTKJ untuk pertanyaan seputar LGC PT dan CRM juga akan tersedia.

Siapa yang Sebaiknya Hadir?

Peserta webinar dari laboratorium, industri, dan LPH

Gambar : Peserta webinar dari laboratorium, industri, dan LPH

Webinar ini relevan untuk beberapa kelompok sekaligus:

Manajer mutu dan penyelia laboratorium. Anda akan mendapat kejelasan tentang ekspektasi KAN dan cara menyusun rencana PT yang berbasis risiko.

Analis dan teknisi. Anda akan memahami bagaimana hasil kerja harian terhubung dengan evaluasi eksternal dan mengapa pencatatan yang rapi menyelamatkan saat investigasi.

Tim QA dan QC pabrikan. Sektor kosmetik, makanan dan minuman, serta farmasi akan menemukan contoh skema yang dekat dengan kebutuhan produksi.

Lembaga Pemeriksa Halal dan pihak dalam ekosistem halal. Pembahasan cakupan dan bukti alternatif pada pengujian halal akan membantu menyusun ekspektasi yang realistis.

Pemilik bisnis dan manajemen. Memahami risiko reputasi dan regulasi akan membantu keputusan alokasi anggaran mutu yang lebih tepat.

Lima Langkah Praktis Sebelum Webinar Dimulai

Daftar periksa persiapan laboratorium sebelum mengikuti webinar

Gambar : Daftar periksa persiapan laboratorium sebelum mengikuti webinar

Agar waktu 180 menit terpakai maksimal, ada baiknya Anda datang dengan persiapan. Berikut lima langkah sederhana yang bisa dilakukan sebelum 15 Oktober:

  1. Petakan partisipasi PT saat ini. Catat skema apa saja yang sudah diikuti dan kapan putaran terakhirnya.
  2. Cocokkan dengan ruang lingkup pengujian. Tandai parameter yang belum memiliki perbandingan eksternal.
  3. Kumpulkan laporan PT lama. Periksa apakah ada hasil menyimpang yang dokumentasi tindak lanjutnya belum lengkap.
  4. Tulis pertanyaan spesifik. Kumpulkan pertanyaan tentang matriks, analit, atau situasi yang belum ada program PT-nya. Panitia mengumpulkan pertanyaan lewat chat atau formulir dan menggabungkan yang serupa.
  5. Ajak rekan satu tim. Audit adalah kerja tim, dan pemahaman bersama mempercepat perbaikan.

Tiga Insight yang Bisa Dibawa Pulang

Tiga insight utama dari webinar Proficiency Testing

Gambar : Tiga insight utama dari webinar Proficiency Testing

Jika harus diringkas, ada tiga hal yang layak dibawa pulang dari webinar ini, sejalan dengan tiga poin yang tertera pada flyer.

Pertama, pahami peran uji profisiensi. PT adalah evaluasi eksternal, bukan sekadar syarat administratif. Ia memberi laboratorium cermin objektif tentang posisinya di antara laboratorium lain, dan cermin itu paling berguna bila dibaca dengan jujur.

Kedua, identifikasi celah kesiapan audit. Celah biasanya bukan pada satu prosedur besar, melainkan pada hal-hal kecil: parameter yang belum punya perbandingan eksternal, laporan lama yang tindak lanjutnya belum tuntas, atau alasan pemilihan skema yang tidak terdokumentasi. Mengetahui letak celah sejak awal membuat perbaikan lebih murah dan lebih tenang.

Ketiga, perkuat keandalan hasil uji. Di sinilah PT, CRM, dan disiplin CAPA bertemu. CRM membantu validasi dan QC internal, PT memberi perbandingan eksternal, dan CAPA memastikan setiap penyimpangan berujung pada perbaikan yang terbukti efektif. Ketiganya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Bagi laboratorium yang sedang bersiap menghadapi asesmen dalam beberapa bulan ke depan, webinar ini bisa menjadi titik awal yang efisien. Dalam satu sore, Anda mendengar perspektif regulator akreditasi, penyelenggara PT internasional, dan penyedia lokal sekaligus. Kombinasi seperti ini jarang tersedia dalam satu forum, terlebih tanpa biaya.

Cara Mendaftar dan Penutup

Kesiapan audit tidak dibangun dalam satu hari, tetapi bisa dimulai dari satu keputusan: memahami cara kerja uji profisiensi dengan benar. Webinar 15 Oktober 2026 ini memberi tiga hal sekaligus, yaitu kerangka kebijakan dari KAN, pemahaman produk dan skema dari LGC AXIO, serta gambaran cara PTKJ mendampingi kebutuhan laboratorium.

Ringkasan acara:

  • Kegiatan: Webinar “Laboratorium Anda Siap Diaudit? Proficiency Testing untuk Laboratorium Siap Audit”
  • Tanggal: Kamis, 15 Oktober 2026
  • Waktu:30–16.30 WIB
  • Tempat: Zoom Meeting
  • Biaya: Gratis
  • Narasumber: Dominic Hasson, BBA (LGC AXIO) dan Fajarina Budiantari, S.T.P., M.Si. (KAN & BSN), dengan pengantar dari PTKJ
  • Pendaftaran: [ https://bit.ly/WebinarOktoberProficiencyTesting atau https://forms.gle/bBta9Saew1oVYnRR9

Daftar sekarang dan amankan tempat Anda, terutama karena hadiah tersedia untuk 10 pendaftar pertama. Kesiapan audit yang baik dimulai dari bukti yang kuat, dan bukti yang kuat dimulai dari pemahaman yang tepat.

PT Karunia Jasindo, Driven by Quality, Guided by Integrity. For All Your Laboratory Needs

Share this

Signup our newsletter to get update information, news, insight or promotions.

Related News