RECAP Webinar PT Karunia Jasindo x LGC AXIO Proficiency Testing: “Proficiency Testing for Audit-Ready Laboratories: From ISO 17025 and KAN to BPOM and BPJPH”

Webinar proficiency testing PT Karunia Jasindo dan LGC AXIO untuk laboratorium siap audit

Kamis siang, 15 Oktober 2026, layar-layar laboratorium dari berbagai kota terhubung dalam satu ruang Zoom yang sama. Tujuannya sederhana, tetapi penting: membahas bagaimana sebuah laboratorium bisa benar-benar siap diaudit. PT Karunia Jasindo bersama LGC AXIO Proficiency Testing menyelenggarakan webinar proficiency testing bertajuk “Proficiency Testing for Audit-Ready Laboratories: From ISO 17025 and KAN to BPOM and BPJPH”, dengan sesi berlangsung pukul 13.30 hingga 16.30 WIB.

Artikel recap ini merangkum kerangka acara, alasan topiknya relevan, serta insight profesional yang bisa langsung dipraktikkan tim laboratorium Anda. Bagi yang belum sempat hadir, anggap ini sebagai peta singkat. Bagi yang hadir, anggap ini sebagai catatan penguat.

Mengapa Webinar Ini Digelar

Setiap laboratorium pengujian di Indonesia pada akhirnya berhadapan dengan satu momen yang sama: audit. Auditor datang, membuka dokumen, menelusuri rekaman, dan mengajukan pertanyaan yang kerap sederhana namun menusuk. “Bagaimana Anda tahu hasil uji ini valid?” Jawaban yang meyakinkan hampir selalu bertumpu pada bukti objektif, dan salah satu bukti terkuat adalah partisipasi dalam uji profisiensi.

Masalahnya, banyak laboratorium memperlakukan uji profisiensi sebagai kewajiban administratif yang dikerjakan menjelang audit. Padahal, bila dipahami dan dijalankan dengan benar, uji profisiensi adalah alat manajemen mutu yang bekerja sepanjang tahun. Webinar ini dirancang untuk menggeser cara pandang tersebut: dari “mengikuti demi memenuhi syarat” menjadi “mengikuti demi memahami posisi laboratorium sendiri”.

Judul webinar memuat dua ujung rantai yang menarik. Di satu ujung ada ISO/IEC 17025 dan akreditasi KAN, yang menjadi fondasi kompetensi laboratorium. Di ujung lain ada BPOM dan BPJPH, dua otoritas yang kebutuhan pengawasannya semakin terasa bagi laboratorium yang melayani industri pangan, obat, kosmetik, dan produk halal. Uji profisiensi menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya.

Format dan Pembicara

Webinar dilaksanakan secara daring melalui Zoom, gratis, dan dilengkapi e-certificate bagi peserta. Panitia juga menyiapkan kuis dengan hadiah bagi sejumlah pendaftar pertama. Format ini sengaja dibuat ringan akses agar laboratorium dari berbagai skala, mulai dari laboratorium industri besar hingga laboratorium daerah dan institusi pendidikan, dapat ikut tanpa terkendala biaya dan perjalanan.

Dua narasumber dihadirkan untuk memberi dua sudut pandang yang saling melengkapi:

– Dominic Hasson, BBA, Business Development Manager LGC AXIO Proficiency Testing, yang membawakan perspektif penyelenggara skema uji profisiensi internasional. Sesinya disampaikan dalam bahasa Inggris.

– Dr. rer. oec. Dhandy Arisaktiwardhana, S.T., M.T., Analis Standardisasi Ahli Madya Badan Standardisasi Nasional (BSN) sekaligus Lead Assessor Komite Akreditasi Nasional (KAN), yang membawakan perspektif asesor dan sistem akreditasi nasional.

Kombinasi ini menarik karena menjawab dua pertanyaan yang sering diajukan laboratorium. Dari sisi penyelenggara: seperti apa skema uji profisiensi yang kredibel dan bagaimana cara memilihnya? Dari sisi asesor: apa yang sebenarnya dicari ketika mereka menilai pemantauan validitas hasil?

Peta Besar: Dari ISO 17025 ke KAN

ISO/IEC 17025 adalah standar internasional untuk kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi. Di Indonesia, KAN menjadi lembaga yang mengakreditasi laboratorium berdasarkan standar tersebut. Salah satu persyaratan yang paling sering menjadi bahan diskusi adalah pemantauan validitas hasil. Laboratorium diharapkan memiliki prosedur untuk memastikan bahwa hasil yang dikeluarkan tetap dapat dipercaya dari waktu ke waktu, dan partisipasi dalam uji profisiensi atau perbandingan antar laboratorium merupakan salah satu caranya.

Ada beberapa hal yang kerap membedakan laboratorium yang lancar saat asesmen dengan yang kesulitan:

Perencanaan, bukan reaksi

Laboratorium yang matang memiliki rencana partisipasi uji profisiensi yang disusun di awal tahun. Rencana itu memetakan ruang lingkup pengujian, parameter, dan matriks, lalu menautkannya dengan skema yang tersedia. Dengan begitu, tidak ada kepanikan mencari skema pada bulan-bulan terakhir menjelang asesmen.

Cakupan yang masuk akal

Tidak semua parameter harus diuji profisiensinya setiap tahun, tetapi pemilihan harus dapat dijelaskan secara logis berdasarkan risiko dan ruang lingkup. Asesor biasanya akan bertanya mengapa sebuah parameter dipilih atau tidak. Jawaban yang berbasis analisis risiko jauh lebih kuat daripada jawaban “karena skemanya kebetulan tersedia”.

Penanganan hasil yang menyimpang

Hasil yang menyimpang bukan akhir segalanya. Auditor justru lebih menilai apa yang dilakukan laboratorium setelahnya: investigasi akar masalah, tindakan perbaikan, dan verifikasi efektivitasnya. Laboratorium yang mendokumentasikan proses ini dengan baik menunjukkan sistem mutu yang hidup.

Peta Besar: Dari Akreditasi ke BPOM dan BPJPH

Bagi laboratorium yang melayani sektor teregulasi, kebutuhan buktinya meluas. BPOM berkepentingan dengan keamanan, mutu, dan kemanfaatan produk obat dan makanan. BPJPH menaungi penjaminan produk halal, dan dalam ekosistem halal, laboratorium pengujian memegang peran penting untuk memverifikasi kandungan tertentu pada bahan dan produk.

Kedua otoritas ini bergantung pada data uji yang dapat dipercaya. Ketika laboratorium memiliki rekam jejak uji profisiensi yang baik, ia membawa sinyal kompetensi yang mudah dibaca, baik oleh regulator maupun pelanggan industri. Itu pula sebabnya topik webinar menautkan akreditasi KAN dengan kebutuhan lapangan terkait BPOM dan BPJPH, bukan memisahkannya.

Satu catatan penting: persyaratan rinci tiap otoritas dapat berbeda dan terus diperbarui. Laboratorium sebaiknya selalu merujuk pada dokumen dan ketentuan resmi terbaru dari KAN, BPOM, dan BPJPH, bukan hanya pada ringkasan seperti ini.

Apa Itu LGC AXIO Proficiency Testing

LGC AXIO Proficiency Testing adalah penyedia skema uji profisiensi internasional yang melayani laboratorium di berbagai sektor, seperti pangan dan minuman, lingkungan, mikrobiologi, dan farmasi. Penyelenggara skema seperti ini mengirimkan sampel uji yang telah disiapkan dan diuji kehomogenannya ke para peserta. Peserta menganalisis sampel dengan metode rutin mereka, melaporkan hasil, lalu menerima evaluasi yang membandingkan hasilnya dengan nilai acuan dan peserta lain.

Hal yang sering ditanyakan laboratorium Indonesia adalah soal pengakuan. LGC AXIO terakreditasi oleh UKAS sebagai penyelenggara uji profisiensi berdasarkan ISO/IEC 17043, standar internasional untuk kompetensi penyelenggara uji profisiensi. Untuk status dan ruang lingkup terkini, sumber paling tepat tetap dokumen resmi LGC dan lembaga akreditasinya. Pertanyaan apakah sebuah skema dapat diterima oleh asesor tertentu sebaiknya dikonfirmasi pada sistem akreditasi yang relevan sebelum laboratorium memutuskan skema yang dipakai.

Satu pelajaran praktis yang menonjol: mengenali penyelenggara berstandar ISO/IEC 17043 memberi laboratorium dasar yang kuat untuk memilih skema. Asesor umumnya menyukai laboratorium yang dapat menjelaskan alasan pemilihan penyelenggara, bukan sekadar menyerahkan sertifikat partisipasi.

Insight Profesional: Uji Profisiensi sebagai Alat Belajar

Satu pesan yang paling layak dibawa pulang dari tema webinar ini adalah bahwa uji profisiensi sebaiknya dipakai sebagai alat belajar, bukan sekadar bukti administratif. Berikut beberapa cara menjadikannya begitu.

1. Perlakukan sampel uji seperti sampel rutin

Prinsip dasarnya, sampel uji profisiensi dianalisis dengan prosedur, analis, dan peralatan yang biasa dipakai. Jika sampel diperlakukan istimewa, hasilnya tidak lagi mencerminkan kinerja sehari-hari. Hasil yang “terlalu bagus” karena perlakuan khusus justru dapat menyesatkan manajemen.

2. Pelajari laporan, jangan hanya lihat skor

Laporan evaluasi biasanya memuat lebih dari sekadar nilai kinerja. Ada distribusi hasil peserta, informasi metode, dan kadang pola yang menarik. Analisis pola ini membantu laboratorium melihat apakah penyimpangan berasal dari metode, kalibrasi, atau faktor lain.

3. Hubungkan temuan dengan sistem mutu

Setiap hasil yang menyimpang perlu terhubung dengan rekaman ketidaksesuaian, analisis akar masalah, dan tindakan perbaikan. Rangkaian dokumen ini adalah cerita yang ingin dibaca auditor: laboratorium menemukan masalah, memahaminya, memperbaikinya, lalu memverifikasi.

4. Gunakan data jangka panjang

Satu hasil hanyalah satu titik. Tren hasil dari beberapa putaran memberi gambaran yang jauh lebih jujur tentang kinerja laboratorium. Menyimpan dan membaca tren membantu mendeteksi pergeseran sebelum berubah menjadi masalah.

5. Libatkan tim, bukan hanya penyelia mutu

Pengetahuan dari uji profisiensi akan lebih bermanfaat jika dibagikan kepada analis dan manajemen. Sesi singkat pembahasan hasil setiap putaran dapat meningkatkan kesadaran mutu seluruh tim.

Kesalahan Umum Menjelang Audit

Dalam praktik, ada beberapa pola yang sering muncul dan layak diwaspadai laboratorium:

– Mengikuti skema yang tidak sesuai ruang lingkup. Skema dipilih karena murah atau mudah, bukan karena sesuai parameter dan matriks yang diakreditasi.

– Tidak menindaklanjuti hasil menyimpang. Laporan disimpan, tetapi tidak ada investigasi dan perbaikan yang terdokumentasi.

– Rencana partisipasi yang tidak terdokumentasi. Laboratorium ikut skema secara spontan, tanpa rencana tahunan yang dapat ditunjukkan.

– Dokumen terpisah-pisah. Sertifikat partisipasi, laporan evaluasi, dan rekaman tindakan perbaikan tersimpan di tempat berbeda sehingga sulit ditelusuri saat diminta auditor.

– Menganggap uji profisiensi cukup untuk membuktikan segalanya. Uji profisiensi hanyalah salah satu alat pemantauan validitas, dan perlu dilengkapi dengan kontrol kualitas internal, penggunaan bahan acuan, dan verifikasi lain.

Mengenali pola-pola ini lebih awal memberi laboratorium waktu untuk memperbaikinya dengan tenang, bukan dengan tergesa pada minggu terakhir sebelum asesmen.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Uji Profisiensi

Topik seperti ini hampir selalu memunculkan pertanyaan serupa dari laboratorium. Berikut jawaban umum yang dapat dijadikan pegangan awal.

Berapa sering laboratorium sebaiknya mengikuti uji profisiensi? Tidak ada satu jawaban untuk semua. Frekuensi bergantung pada ruang lingkup, risiko, volume pengujian, dan ketentuan lembaga akreditasi yang berlaku. Yang penting, laboratorium punya rencana yang masuk akal dan dapat dijelaskan.

Apakah hasil baik di satu putaran berarti aman? Belum tentu. Satu hasil memberi gambaran sesaat. Tren dari beberapa putaran, dipadukan dengan kontrol kualitas internal, memberi gambaran yang lebih utuh.

Bagaimana bila tidak ada skema untuk parameter tertentu? Laboratorium dapat mempertimbangkan alternatif yang diakui, seperti perbandingan antar laboratorium, dan mendiskusikannya dengan lembaga akreditasi agar pendekatannya dapat diterima.

Apakah biaya uji profisiensi sepadan? Bila dipandang sebagai investasi mutu, jawabannya cenderung ya. Biaya satu temuan serius saat audit, atau satu keluhan pelanggan akibat hasil yang keliru, biasanya jauh lebih besar daripada biaya mengikuti skema secara terencana.

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan teknis semata, melainkan cara berpikir: uji profisiensi adalah bagian dari sistem, bukan acara tahunan yang berdiri sendiri.

PT Karunia Jasindo: Menjembatani Prinsipal dan Laboratorium

Di tengah rangkaian topik teknis tersebut, peran penyelenggara lokal menjadi penting. PT Karunia Jasindo menyelenggarakan webinar ini bersama LGC AXIO Proficiency Testing sebagai bagian dari komitmen mendampingi laboratorium di Indonesia, bukan hanya dalam penyediaan produk, tetapi juga dalam berbagi pengetahuan.

Sebagai penyedia solusi laboratorium yang mencakup reagent, reference standard, proficiency testing, mikrobiologi, consumables, dan instrumen, serta bermitra dengan LGC, PT Karunia Jasindo memahami bahwa laboratorium jarang menghadapi satu masalah terpisah. Persiapan audit, misalnya, melibatkan pemilihan skema uji profisiensi, ketersediaan bahan acuan, kualitas reagent, hingga kesiapan dokumen. Semua itu saling terkait.

Dengan menghadirkan narasumber dari penyelenggara internasional dan dari lingkungan standardisasi serta akreditasi nasional, PT Karunia Jasindo berupaya mempertemukan dua dunia yang sering dibicarakan terpisah: sisi penyedia skema dan sisi penilai. Pertemuan ini membantu laboratorium memahami logika di balik persyaratan, sehingga keputusan yang diambil lebih tepat sasaran.

Selain itu, PT Karunia Jasindo membantu pelanggan menerjemahkan informasi skema menjadi langkah praktis: mencocokkan parameter dengan skema yang tersedia, menjelaskan jadwal putaran dan proses pendaftaran, serta menjawab pertanyaan teknis seputar penggunaan skema dalam sistem mutu laboratorium.

Checklist Laboratorium Siap Audit

Berikut daftar sederhana yang dapat dipakai sebagai titik awal evaluasi internal. Daftar ini bukan pengganti persyaratan resmi, tetapi membantu memeriksa kesiapan dasar.

– Apakah ada rencana partisipasi uji profisiensi tahunan yang disetujui dan terdokumentasi?

– Apakah parameter dan matriks pada rencana tersebut sudah dipetakan terhadap ruang lingkup pengujian Anda?

– Apakah penyelenggara skema dipilih dengan alasan yang dapat dijelaskan, misalnya kesesuaian dengan ISO/IEC 17043?

– Apakah sampel uji profisiensi ditangani sama seperti sampel rutin?

– Apakah setiap hasil menyimpang memiliki rekaman investigasi dan tindakan perbaikan?

– Apakah tren hasil dari beberapa putaran dikaji secara berkala?

– Apakah dokumen terkait tersimpan rapi dan mudah ditelusuri?

– Apakah ketentuan terbaru dari KAN, BPOM, dan BPJPH yang relevan sudah dipantau?

Jika sebagian besar jawabannya masih “belum”, itu bukan alasan untuk cemas. Justru itulah titik awal perbaikan yang paling berharga, dan masih banyak waktu bila dimulai sekarang.

Mengapa Topik Ini Akan Terus Relevan

Tren regulasi dan kebutuhan pasar menunjukkan bahwa tuntutan terhadap bukti kompetensi laboratorium tidak akan menurun. Industri pangan, farmasi, kosmetik, dan produk halal semakin bergantung pada data uji yang kredibel. Pelanggan dan regulator semakin terbiasa meminta bukti, bukan sekadar pernyataan. Laboratorium yang membangun budaya mutu sejak sekarang akan berada pada posisi yang lebih kuat.

Dalam konteks itu, uji profisiensi bukan beban tambahan. Ia adalah cermin yang jujur. Laboratorium yang berani bercermin secara rutin akan lebih cepat memperbaiki diri, lebih tenang menghadapi audit, dan lebih dipercaya pelanggan.

Penutup

Webinar PT Karunia Jasindo x LGC AXIO Proficiency Testing ini menegaskan satu pesan sederhana: kesiapan audit adalah hasil kebiasaan, bukan hasil kerja semalam. Dari ISO/IEC 17025 dan KAN hingga BPOM dan BPJPH, benang merahnya sama, yaitu kepercayaan pada data uji yang dapat dibuktikan.

Terima kasih kepada para narasumber, kepada seluruh peserta yang meluangkan waktu, dan kepada mitra penyelenggara yang mendukung terselenggaranya acara ini. Semoga pengetahuan yang dibagikan dapat membantu laboratorium di seluruh Indonesia melangkah lebih siap dan lebih percaya diri.

 

Ingin laboratorium Anda lebih siap audit? Tim PT Karunia Jasindo siap membantu Anda memilih skema LGC AXIO Proficiency Testing yang sesuai ruang lingkup pengujian, lengkap dengan dukungan reference material dan solusi laboratorium lainnya. Hubungi kami di www.karusindo.com atau sales@karusindo.com.

Share this

Signup our newsletter to get update information, news, insight or promotions.